Tampilkan postingan dengan label Winna Efendi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Winna Efendi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Desember 2014

Happily Ever After - Winna Efendi

Happily Ever AfterJudul : Happily Ever After
Penulis : Winna Efendi
Editor : Jia Effendi
Penerbit : Gagas Media
Jumlah halaman :
Tahun Terbit : 2014
Genre : Romance
Rating : 4/5 stars


Sinopsis
Tak ada yang kekal di dunia ini.Namun, perempuan itu percaya, kenangannya, akan tetap hidup dan ia akan terus melangkah ke depan dengan berani.
Ini adalah kisah tentang orang favoritku di dunia.
Dia yang penuh tawa. Dia yang tangannya sekasar serat kayu, tetapi memiliki sentuhan sehangat sinar matahari. Dia yang merupakan perpaduan aroma sengatan matahari dan embun pagi. Dia yang mengenalkanku pada dongeng-dongen sebelum tidur setiap malam. Dia yang akhirnya membuatku tersadar, tidak semua dongeng berakhir bahagia.
Ini juga kisah aku dengan anak lelaki yang bermain tetris di bawah ranjang. Dia yang ke mana-mana membawa kamera polaroid, menangkap tawa di antara kesedihan yang muram. Dia yang terpaksa melepaskan mimpinya, tetapi masih berani untuk memiliki harapan ...
Keduanya menyadarkanku bahwa hidup adalah sebuah hak yang istimewa. Bahwa kita perlu menjalaninya sebaik mungkin meski harapan hampir padam.
Tidak semua dongeng berakhir bahagia. Namun, barangkali kita memang harus cukup berani memilih; bagaimana akhir yang kita inginkan. Dan, percaya bahwa akhir bahagia memang ada meskipun tidak seperti yang kita duga.

Lucia Surya, atau yang sering dipanggil Lulu bercita cita ingin menjadi seperti sang ayah. Dari kecil, Lulu  selalu dibacakan dongeng dongeng oleh sang ayah. Mulai dari dongeng yang memiliki happy ending sampai dongeng yang endingnya masih misteri. Ayah Lulu merupakan arsitek yang handal, tentunya ayahnya harus melalui berbagai rintangan hingga berhasil dan hidup berkecukupan seperti saat ini. Waktu berlalu dengan cepat, Lulu tumbuh menjadi seorang gadis yang pintar, tegar, dan berani. 

Di sekolah, ia suka sekali mengeksplor gedung gedung sekolahnya. Mencari cari tempat rahasia yang bisa menjadi tempat persembunyiannya. Dulu, ia suka melakukannya bersama Karin, sahabatnya sedari kecil. Namun, semenjak SMA mereka berubah, mereka tak lagi menjadi sahabat, melainkan 2 orang asing yang pernah punya masa lalu. Semuanya dimulai, saat dia berpacaran dengn Ezra, seorang bad boy yang juga punya band. Dia selalu ada untuk Ezra, begitu juga dengan Ezra. Mereka sering menghabiskan waktu setelah pulang sekolah. Ezra membuatkan lagu untuknya dan memiliki panggilan kesayangan untuk dirinya. Gadis Musim Gugur. Namun, perlahan hubungan mereka berubah saat konser perdana band Ezra dimulai. Tiba tiba, keesokan harinya sudah ada Karin yang berada di sisi Ezra bukan Lulu. Dari sejak itu, mereka tak pernah sama lagi. Karin selalu mengejek dan menghinanya dengan kata Lucifer. Karin yang cantik, sekarang bisa mengomentari apa yang dipakai oleh Lulu dengan kata kata yang menyakitkan. Karena itu lah, Lulu lebih suka menghabiskan waktu untuk bersembunyi di tempat rahasianya. Walau Lulu tak punya teman satu pun, tapi dia bisa bertahan dan menjalani hidup seperti biasa. 

Kamis, 17 Juli 2014

Melbourne - Winna Effendi

Melbourne: Rewind
Judul : Melbourne - Rewind
Penulis : Winna Effendi
Penerbit : Gagas Media
Jumlah halaman : 340 halaman
Tahun terbit : 2013
Genre : Fiksi Romance
Harga buku : 41.600 (20% Off)
Bisa dibeli di : bukabuku
Rating : 4/5 stars
Rating Goodreads : 3.80/5 stars


Sinopsis
Pembaca tersayang,

Kehangatan Melbourne membawa siapa pun untuk bahagia. Winna Efendi menceritakan potongan cerita cinta dari Benua Australia, semanis karya-karya sebelumnya: Ai, Refrain, Unforgettable, Remember When, dan Truth or Dare.
Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.
Max dan Laura dulu pernah saling jatuh cinta, bertemu lagi dalam satu celah waktu. Cerita Max dan Laura pun bergulir di sebuah bar terpencil di daerah West Melbourne. Keduanya bertanya-tanya tentang perasaan satu sama lain. Bermain-main dengan keputusan, kenangan, dan kesempatan. Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.
Setiap tempat punya cerita.
Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Melbourne bersama pilihan lagu-lagu kenangan Max dan Laura.
Enjoy the journey,
EDITOR
Saya sebenarnya telat banget ya, baru bisa mereview buku ini. Tapi buat saya gak masalah sih, yang penting saya masih bisa meninggalkan jejak di blog ini. Awalnya, saya gak terlalu niat untuk membeli buku ini. Karena pengalaman sebelumnya saya membaca buku mba Winna, saya sering kali gagal move on dari buku bukunya. Alhasil, mood saya kadang campur aduk (in a good way) setelah baca buku buku mba Winna. Tidak terkecuali Melbourne ini T.T 

Melbourne kali ini bercerita tentang Laura dan Max. Kedua manusia yang sempat merajut cinta di masa lalu yang kemudian dipertemukan kembali. Max telah menjadi seorang designer cahaya dan Laura sebagai freelancer di salah satu radio di Melbourne. Pertemuan pertemuan mereka diisi dengan nostalgia. Mulai dari kafe tempat mereka bertemu dulu sampai lagu lagu yang sering kali menemani kebersamaan mereka. Konflik muncul, saat Laura menemukan seseorang yang bisa memenuhi ruang hatinya yang kosong pada sosok Evan. Dimana, Evan sendiri adalah pacar sahabat baik Laura. Di sisi lain, Max masih menyimpan rasa pada Laura. Disini, Laura mulai bimbang dengan perasaannya. Dia merasa nyaman saat berada di sisi Max, namun dia terlalu takut akan rasa sakit yang pernah dia rasakan dulu. Dia menyukai Evan karena banyak kesamaan di antara mereka, tapi Evan adalah salah satu pria yang tak bisa ia miliki.

Dari awal saya baca buku ini, saya langsung jatuh cinta pada Max. Saya suka sekali dengan ocehan Max tentang cahaya. Max adalah salah satu karakter yang unik yang pernah saya baca. Saya amat menikmati setiap halaman demi halaman kebersamaan Max dan Laura. Yang kemudian, harus sedikit terganggu karena kehadiran sosok Evan. Saya mulai waswas dan takut, kalau kalau buku ini berakhir dengan sad ending. Untungnya hubungan Laura dan Evan tidak seburuk yang saya kira. Evan bukanlah karakter annoying yang meninggalkan pacar demi sahabat pacarnya (lah ._.). Yang jelas, saya bersyukur sekali mba Winna tidak membiarkan hubungan Laura dan Evan melenceng terlalu jauh. Penuturan dan gaya cerita mba Winna masih sama seperti buku buku sebelumnya. Sweet, melankolis dan dalem. Buku ini adalah salah satu buku STPC favorit saya setelah Paris dan Bangkok. 

Quote favorit saya :

"Gue ngiri sama orang kaya lo, Max, yang punya rencana untuk masa depan dan tahu apa langkah selanjutnya yang harus diambil. What if I never get to decide what I want? What if I never know what I can be? What If I spend the rest of my life not knowing any of that?"

"But there's also something nice in not knowing, you know? Dalam keindahannya sendiri, masa depan akan jadi kejutan. Kita nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, baik maupun buruk. Dan, ada satu hal yang gue tahu pasti, lo akan selalu punya gue, dalam setiap langkah menuju ketidaktahuan itu."